Analisis 10 Artikel Rasa Ingin Tahu (Curiosity) Siswa Sekolah Dasar

Berikut ini analisis artikel mengenai rasa ingin tahu (curiosity) siswa sekolah dasar, dengan menganalisis mulai dari latar belakang, tujuan penelitian, metode penelitian, kesimpulan hasil penelitian, dan penelitian selanjutnya. Adapun artikel yang dipilih untuk di analisis yakni berjumlah 10 artikel yang dipublikasikan pada rentang tahun 2017-2021. Temuan penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk menulis penelitian ilmiah seperti skripsi, tesis, dan lain-lain.

Latar Belakang

Implementasi pembelajaran tematik berbasis pendekatan saintifik, pendidikan di sekolah dasar juga menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa (Prasetyo, T., 2017). Salah satu nilai karakter yang terdapat dalam pendidikan karakter yaitu rasa ingin tahu (Setiyadi, D., 2018), dan memiliki peranan penting dalam menumbuh kembangkan pengetahuan dan pengalaman siswa (Yantoro, Y., 2017). Namun pada kenyataannya, guru belum menerapkan pembelajaran yang tepat (Prayitno, S., 2021), sehingga rasa ingin tahu yang ditunjukkan siswa pada pembelajaran masih rendah (Asmoro, B. P., & Mukti, F. D., 2019). Oleh karena itu, perlu upaya untuk mengubah pandangan terhadap pendidikan khususnya di sekolah dasar dari pengajaran yang hanya terpaku pada pendidik (teacher centered) ke arah pengajaran yang hanya terpaku pada peserta yang dididik (student centered) (Prasetyo, T., & Nisa, K., 2018).

Upaya penerapan model pembelajaran yang dapat mendorong siswa agar keterampilan berpikir kreatif dan rasa ingin tahu dapat meningkat (Makhvudah, C., Eka, K. I., & Bramasta, D., 2020), sehingga siswa dapat menjawab dan mengemukakan gagasannya sendiri melalui keaktifannya dalam mengikuti  pembelajaran (Wati, R. W., Bramasta, D., & Irianto, S., 2020), karena pembelajaran yang berhasil sangat ditunjang dari proses pembelajaran yang dirancang dengan efektif oleh guru di kelas (Prasetyo, T., & Fitri, A., 2018). Maka seorang guru harus mampu merancang dan mengemas pembelajaran sebagai suatu pembelajaran yang menyenangkan (Laelasari, I., & Adisendjaja, Y. H., 2018).

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan peningkatan karakter rasa ingin tahu kelas III SD (Prasetyo, T., 2017). Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa (Prayitno, S., 2021), peningkatan rasa ingin tahu melalui model CTL dalam pelajaran IPA (Asmoro, B. P., & Mukti, F. D., 2019), mendeskripsikan peningkatan rasa ingin tahu dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA (Prasetyo, T., & Fitri, A., 2018), pengaruh model Problem Based Learning terhadap output nilai studi dan rasa keingintahuan peserta yang dididik pada edukasi IPA (Prasetyo, T., & Nisa, K., 2018).

Mengeksplorasi kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu siswa dalam memahami sains melalui kegiatan laboratorium sederhana (Laelasari, I., & Adisendjaja, Y. H., 2018), dan meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan rasa ingin tahu siswa melalui model pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat (STM) (Makhvudah, C., Eka, K. I., & Bramasta, D., 2020). Peningkatan rasa ingin tahu dan prestasi belajar peserta didik dengan model pembelajaran Example Non Example (Wati, R. W., Bramasta, D., & Irianto, S., 2020). Penggunaan metode pemecahan masalah dalam meningkatkan rasa ingin tahu siswa pada pembelajaran matematika (Yantoro, Y., 2017), meningkatkan rasa ingin tahu siswa dan prestasi belajar matematika pada materi lambang bilangan romawi melalui strategi TANDUR (Setiyadi, D., 2018).

Metode Penelitian

Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (Setiyadi, D., 2018; Wati, R. W., Bramasta, D., & Irianto, S., 2020; Yantoro, Y., 2017), penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model Kemmis dan Mc Taggart (Prayitno, S., 2021; Makhvudah, C., Eka, K. I., & Bramasta, D., 2020; Asmoro, B. P., & Mukti, F. D., 2019). Selanjutnya penelitian kuantitatif menggunakan pre-experimental design (Prasetyo, T., 2017), kuantitatif dengan desain nonequivalent control group desain (Prasetyo, T., & Nisa, K., 2018; Prasetyo, T., & Fitri, A., 2018), dan penelitian deskriptif kualitatif (Laelasari, I., & Adisendjaja, Y. H., 2018).

Simpulan

Berdasarkan 10 artikel ilmiah rasa ingin tahu (curiosity) siswa sekolah dasar yang telah dianalisis dapat disimpulkan sebagai berikut:

Dengan menggunakan langkah-langkah metode pemecahan masalah dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa dengan baik (Yantoro, Y., 2017), sehingga pengajaran dengan model Problem Based Learning lebih efektif dalam output studi IPA dan peningkatan rasa keingintahuan peserta yang dididik daripada pengajaran biasa yang diterapkan oleh pendidik yaitu melalui pendekatan konvensional (Prasetyo, T., & Nisa, K., 2018). 

Adapun pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning yang mendorong siswa untuk aktif mengkonstruksikan pengetahuannya, belajar memecahkan masalah, mendiskusikan masalah pelajaran, menumbuhkan rasa ingin tahu belajar yang dapat mempengaruhi pola interaksi siswa dalam memperoleh materi yang tercakup dalam satu pelajaran (Asmoro, B. P., & Mukti, F. D., 2019), sehingga dapat meningkatkan rasa ingin tahu siswa pada pembelajaran IPA kelas V (Prayitno, S., 2021).

Pembelajaran yang dilaksanakan menggunakan pendekatan saintifik mampu meningkatkan karakter rasa ingin tahu pada aspek yang positif hal ini harus didukung kesiapan dari guru yang akan berperan dalam merancang proses pembelajaran di kelas (Prasetyo, T., 2017). Pendekatan saintifik memadukan model penemuan terbimbing berpengaruh positif terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD pada mata pelajaran IPA berdasarkan hasil analisis data independent t-test dengan taraf signifikansi 5% hasil belajar IPA diperoleh signifikansi hitung yaitu 0,000 < 0,05 dan pendekatan saintifik memadukan model penemuan terbimbing juga dapat meningkatkan karakter rasa ingin tahu siswa V SD pada mata pelajaran IPA (Prasetyo, T., & Fitri, A., 2018). 

Penerapan model pembelajaran Example Non Example dalam pembelajaran tematik dapat meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik terlihat dari semakin banyaknya peserta didik yang berani bertanya, mengajukan pendapat, serta mencari informasi baru pada saat proses pembelajaran (Wati, R. W., Bramasta, D., & Irianto, S., 2020). Selain itu, kegiatan laboratorium inquiry sederhana dapat mengeksplor kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu siswa dalam pembelajaran sains, sehingga siswa lebih antusias menikmati pembelajaran, tidak mengantuk dan tidak bosan, serta merasa tertantang untuk mengulangi kegiatan laboratorium tersebut (Laelasari, I., & Adisendjaja, Y. H., 2018).

Sikap rasa ingin tahu dan prestasi belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja siswa melalui strategi TANDUR selalu mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II (Setiyadi, D., 2018). Kemampuan berpikir kreatif dan rasa ingin tahu pada siswa menggunakan model pembelajaran STM (Sains Teknologi Masyarakat) di kelas IV menunjukan hasil sesuai dengan indikator keberhasilan yaitu 70% siswa yang memenuhi kemampuan berpikir kreatif mencapai kriteria baik yaitu 0,6 < M ≤ 1,2, sedangkan hasil rasa ingin tahu pada siswa belum sesuai dengan indikator keberhasilan yaitu kurang dari 70% siswa yang memenuhi sikap rasa ingin tahu (Makhvudah, C., Eka, K. I., & Bramasta, D., 2020).  

Penelitian Selanjutnya

Penelitian selanjutnya dapat diarahkan pada pengembangan media pembelajaran berbasis digital untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa (Setiyadi, D., 2018), implementasi model Problem Based Learning berbantuan video animasi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keingintahuan siswa (Prasetyo, T., & Nisa, K., 2018). Mengamati pengaruh penerapan pembelajaran CTL di masa pandemi dalam meningkatkan rasa ingin tahu siswa (Asmoro, B. P., & Mukti, F. D., 2019). 

Menguji efektivitas penerapan model pembelajaran Example Non Example (Wati, R. W., Bramasta, D., & Irianto, S., 2020). Pengembangan indikator-indikator karakter rasa ingin tahu siswa (Prasetyo, T., & Fitri, A., 2018), hubungan rasa ingin tahu terhadap motivasi dan hasil belajar siswa (Prayitno, S., 2021), pengaruh kegiatan laboratorium inquiry sederhana terhadap hasil belajar IPA (Laelasari, I., & Adisendjaja, Y. H., 2018), upaya meningkatkan hasil belajar menggunakan pendekatan problem-based learning ditinjau dari rasa ingin tahu siswa (Yantoro, Y., 2017). 

Program peningkatan kemampuan pedagogik guru dalam mengembangkan sikap rasa ingin tahu siswa (Makhvudah, C., Eka, K. I., & Bramasta, D., 2020). Peningkatan keterampilan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran tematik integratif berbasis pendekatan saintifik untuk meningkatkan karakter rasa ingin tahu siswa di sekolah dasar (Prasetyo, T., 2017).

Daftar Pustaka

  1. Asmoro, B. P., & Mukti, F. D. (2019). Peningkatan Rasa Ingin Tahu Ilmu Pengetahuan Alam Melalui Model Contextual Teaching and Learning Pada Siswa Kelas Va Sekolah Dasar Negeri Karangroto 02. Abdau: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 2(1), 115-142. doi: https://doi.org/10.36768/abdau.v2i1.28
  2. Laelasari, I., & Adisendjaja, Y. H. (2018). Mengeksplorasi kemampuan berpikir kritis dan rasa ingin tahu siswa melalui kegiatan laboratorium inquiry sederhana. Thabiea: Journal of Natural Science Teaching, 1(1), 14-19. doi: http://dx.doi.org/10.21043/thabiea.v1i1.3879
  3. Makhvudah, C., Eka, K. I., & Bramasta, D. (2020). Penerapan Model Pembelajaran STM untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Siswa Kelas IV SD Negeri Pesanggrahan 02. Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, 2(2), 113-121. doi: https://doi.org/10.36232/jurnalpendidikandasar.v2i2.522
  4. Prasetyo, T. (2017). Penerapan Pendekatan Saintifik Untuk Meningkatkan Karakter Rasa Ingin Tahu Di Sekolah Dasar. EduStream: Jurnal Pendidikan Dasar, 1(1), 37-43.
  5. Prasetyo, T., & Fitri, A. (2018). Pengaruh Pendekatan Ilmiah Memadukan Pembelajaran Penemuan Terbimbing terhadap Rasa Ingin Tahu Siswa. Didaktika Tauhidi: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 5(1), 15-28.
  6. Prasetyo, T., & Nisa, K. (2018). Pengaruh model problem based learning terhadap hasil belajar dan rasa keingintahuan siswa. DIDAKTIKA TAUHIDI: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 5(2), 83-93. doi: http://dx.doi.org/10.30997/dt.v5i2.1103
  7. PRAYITNO, S. (2021). PENINGKATAN RASA INGIN TAHU SISWA MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) TEMA 9 “BENDA-BENDA DI SEKITAR KITA” PADA SISWA KELAS V SD NEGERI BOLOSINGO PACITAN. JURNAL EDUKASI: Kajian Teori dan Praktik Kependidikan, 1(1), 100-112. doi: https://doi.org/10.1212/je.v1i1.10
  8. Setiyadi, D. (2018, February). Upaya Meningkatkan Rasa Ingin Tahu dan Prestasi Belajar Berbantuan Lembar Kerja Siswa Lambang Bilangan Romawi Melalui Strategi TANDUR di Kelas IV Sekolah Dasar. In PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika (Vol. 1, pp. 954-962).
  9. Wati, R. W., Bramasta, D., & Irianto, S. (2020). PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE UNTUK MENINGKATKAN RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK TEMA 7 DI KELAS V SD NEGERI 3 KOTAYASA. Jurnal Wahana Pendidikan, 7(2), 201-210. doi: http://dx.doi.org/10.25157/wa.v7i2.3757
  10. Yantoro, Y. (2017). Meningkatkan Rasa Ingin Tahu Dengan Menggunakan Metode Pemecahan Masalah Di Sekolah Dasar. Jurnal Gentala Pendidikan Dasar, 2(1), 90-105. https://doi.org/10.22437/gentala.v2i1.6820.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *