Analisis Teks Akademik Meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia materi unsur cerita pendek

ANALISIS TEKS AKADEMIK

Judul Artikel   : Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Unsur-Unsur Cerita Pendek Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Di Kelas V Sdn No. 170/I Kehidupan Baru.

Penulis              : VIVI AFRILIA SARI

Tahun               : 2014

Link : klik

  1.      PENGANTAR

    Teks akademik atau teks ilmiah dapat berwujud dalam berbagai jenis misalnya buku, jurnal penelitian, artikel ilmiah dan laporan penelitian (yang dapat berbentuk skripsi, tesis, atau disertasi). Sebagai insan yang berada dilingkungan masyarakat akademik dalam hal ini sebagai mahasiswa maupun dosen tentunya sudah biasa dengan teks akademik. Maka daripada  itu dianggap perlu untuk mengetahui lebih dalam tentang seluk beluk teks akademik. Oleh karena itu pada penelitian ini, peneliti akan fokus mengindentifikasi ciri-ciri teks akademik pada pembahasan hasil penelitian artikel ilmiah Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Jambi. Artikel ilmiah yang dianalisis berjudul Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Unsur-Unsur Cerita Pendek Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Di Kelas V Sdn No. 170/I Kehidupan Baru. Artikel ini ditulis oleh Vivi Afrilia Sari pada tahun 2014. Analisis ini fokus mengambil bagian pembahasan karena bagian pembahasan adalah inti dari sebuah artikel yang menunjukan kemampuan penulis dalam menuangkan ide atau gagasannya.

  1. Analisis Teks Pembahasan Artikel Ilmiah
  2. Jumlah Kalimat dalam Pembahasan Artikel Ilmiah

Artiel ilmiah yang ditulis oleh Vivi Afrilia Sari yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Unsur-Unsur Cerita Pendek Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Di Kelas V Sdn No. 170/I Kehidupan Baru. Pada bagian pembahasan jumlah kalimat keseluruhan 12 adalah kalimat. Peneliti mengambil keseluruhan kalimat dalam bagian pembahasan sebagai sampel dalam pengelompokan kalimat simpleks dan kompleks sedangkan pada tahap analisis selanjutnya, peneliti mengambil sampel 6 kalimat (50%) dari 12 kalimat pada bagian pembahasan.

  • Kalimat Simpleks dan Kalimat Kompleks

     Selanjutnya, peneliti akan membagi kalimat berdasarkan ciri-ciri kalimat simpleks dan kalimat kompleks (parataktik) dan kompleks (hipotaktik).

  1. Kalimat Simpleks

     Kalimat yang hanya terdiri dari satu kata verba utama yang menggambarkan aksi, peristiwa, atau keadaan. Kalimat simpleks  bisa juga disebut dengan kalimat tunggal, karena hanya mengandung satu struktur: S – P – O – Ket – Pel. Namun unsur – unsur tersebut (S – P – O – Ket – Pel) belum tentu ada dalam kalimat simpleks.

  • Kalimat Kompleks

     Kalimat kompleks adalah kalimat yang terdiri atas lebih dari satu aksi, peristiwa, atau keadaan sehingga mempunyai kebih dari satu verba utama dalam lebih dari satu struktur. Struktur yang satu dengan struktur yang lainnya biasanya dihubungkan oleh konjungsi.

Kalimat komplek terbagi menjadi 2 jenis yaitu Kalimat komplek paratataik dan kalimat komplek hipotaktik. Berikut adalah jenis-jenis kalimat komplek:

1. Kalimat Komplek Paratatik

Kalimat kompleks yang terdiri atas dua struktur atau lebih yang dinyatakan dengan hubungan konjungtif sejajar dengan makna, antara lain “dan”, “tetapi”, “atau”.

2. Kalimat Kompleks Hipotaktik

Kalimat komplek hipotaktik adalah kalimat kompleks yang dapat dinyatakan dengan hubungan konjungtif dan tidak sejajar dengan makna, antara lain apabila, jika, karena, ketika.

Pada tabel di bawah ini peneliti menentukan jenis kalimat yang digunakan pada bagian pembahasan, yang tergolong kalimat simpleks dan kalimat kompleks (parataktik) dan kompleks (hipotaktik).

Tabel 1. Kalimat Simpleks dan Kompleks dalam Pembahasan Artikel

NoKalimatJenis KalimatPola
1.Hasil penelitian tindakan dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus, ternyata dapat menguji hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini.SimpleksS-P-O-K
2.Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan yaitu “Dengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi Unsur–Unsur Cerita Pendek dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN No. 170/I Kehidupan Baru.Simpleks 
3.Kemudian yang menjadi kriteria keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagaimana dikemukakan pada Bab III adalah jika nilai yang diukur dengan lembaran tes (variabel hasil belajar) mencapai nilai minimal 65 dalam skala 10-100 dengan  persentase  80%,  artinya  jika  80%  dari  seluruh  siswa  telah  mencapai  nilai minimal 65 berarti kriteria keberhasilan yang diharapkan telah tercapai.Kompleks Paratatik 
4.Pada  siklus  I  terdapat  kekurangan  dan  kelebihan  aktivitas  siswa  dan  guru, dimana  kekurangannya  pada  aktivitas  siswa  antara  lain  untuk  aspek  semangat mengikuti kegiatan pembelajaran, memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru, mencatat hal-hal penting saat proses pembelajaran, berani bertanya kepada guru, berani menjawab pertanyaan guru, dan mengerjakan tugas tepat waktu.Kompleks Paratatik 
5.Sedangkan kelebihannya   yaitu   untuk   aspek   aktivitas   dalam   berdiskusi   kelompok,   tekun mengerjakan tugas, dan siswa tidak keluar masuk pada saat pembelajaran.Simpleks 
6.Selanjutnya, kekurangan aktivitas guru pada yaitu pada aspek   membuka pelajaran/apersepsi, pengelolaan kelas, pemberian motivasi dalam belajar, penjelasan materi,   kemampuan   melakukan   evaluasi,   menyimpulkan   materi   pelajaran,   dan pemberian umpan balik.Simpleks 
7.Dan kelebihannya yaitu pada aspek penerapan model pembelajaran Cooperatif Learning tipe Jigsaw, pemberian penghargaan kepada siswa, dan menutup pelajaran.  Kompleks Paratatik 
8.Pada  siklus  II,  pembelajaran  sudah  mengalami  peningkatan  namun  masih terdapat kekurangan aktivitas siswa dan guru.Simpleks 
9.Peningkatan dalam aktivitas siswa adalah untuk aspek semangat mengikuti kegiatan pembelajaran dari 57% menjadi 62%, memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru dari 51% menjadi 53%, mencatat hal-hal penting saat proses pembelajaran dari 57% menjadi 65%, berani menjawab pertanyaan guru dari 58% menjadi 73%.Simpleks 
10.Sedangkan pada  aktivitas guru juga sudah mengalami peningkatan.Simpleks 
11.Hal ini diketahui adanya peningkatan pada aspek membuka pelajaran/apersepsi, pemberian motivasi dalam belajar, kemampuan melakukan evaluasi, dan menyimpulkan materi pelajaran.Kompleks Paratatik 
12.Pada siklus III, aktivitas siswa dan guru sudah mengalami peningkatan, yaitu untuk aktivitas siswa pada aspek  semangat mengikuti kegiatan pembelajaran dari 62% menjadi 71%, memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru dari 53% menjadi 71%, aktivitas dalam berdiskusi kelompok dari 70% menjadi 75%, mencatat hal-hal  penting  saat  proses  pembelajaran  dari  65%  menjadi  71%,  berani  bertanya kepada  guru  dari  57%  menjadi  71%,  berani  menjawab  pertanyaan  guru  dari  73% menjadi 80%, Tekun mengerjakan tugas dari 77% menjadi 78%, mengerjakan tugas tepat waktu dari 56% menjadi 73%. Sedangkan aktivitas guru, peningkatannya dapat diketahui bahwa pada semua aspek sudah dapat dikategorikan baik.Simpleks 

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa pada teks pembahasan artikel ilmiah yang dianalisis didominasi dengan penggunaan kalimat simpleks sebagai salah satu cara penulis untuk memadatkan informasi. Jumlah kalimat simpleks yang terdapat dalam teks pembahasan artikel ilmiah yakni    x 100 = 80%. Jumlah kalimat kompleks parataktik  x 100 = 20% dan tidak ada jumlah kalimat kompleks hipotaktik dalam artikel tersebut.

Berdasarkan analisis struktur kalimat yang terdapat dalam pembahasan artikel ilmiah yang ditulis oleh Vivi Afrilia Sari yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Unsur-Unsur Cerita Pendek Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Di Kelas V Sdn No. 170/I Kehidupan Baru maka persentase penggunaan kalimat simpleks lebih banyak dibandingkan dengan kalimat kompleks parataktik dan kalimat kompleks hipotaktik. Persentase kalimat simpleks yakni 80%, persentase kalimat kompleks parataktik yakni 20%.

Dengan demikian, dari sisi pemadatan informasi melalui kalimat simpleks, menunjukkan ciri teks akademik secara ideasional. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah kesederhanaan dalam struktur kalimat dan struktur kelompok nomina.

  • Teks Akademik Padat Kata Leksikal & Struktural

Teks akademik lebih banyak mengandung kata leksikal atau kata isi (nomina, verba-predikator, adjectiva, dan adverbia tertentu) daripada kata struktural (konjungsi, kata sandang, preposisi, dan sebagainya).

Pada bagian analisis teks akademik padat kata leksikal, peneliti mengambil sampel 6 kalimat (50%) dari 12 kalimat pada bagian pembahasan.

Tabel 2. Penggunaan Kata Leksikal dan Struktural

NoKalimatJenis KataKeterangan
1.Hasil penelitian tindakan dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus, ternyata dapat menguji hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini.Leksikal (14) Struktural (4)Jumlah kalimat keseluruhan= 209 Jumlah kalimat leksikal= 171 Jumlah kalimat struktural= 38 X100%= 80.5% X100%= 19.5%
2.Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan yaituDengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi Unsur–Unsur Cerita Pendek dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN No. 170/I Kehidupan Baru.Leksikal (34) Struktural (7)
3.Kemudian yang menjadi kriteria keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagaimana dikemukakan pada Bab III adalah jika nilai yang diukur dengan lembaran tes (variabel hasil belajar) mencapai nilai minimal 65 dalam skala 10-100 dengan  persentase  80%,  artinya  jika  80%  dari  seluruh  siswa  telah  mencapai  nilai minimal 65 berarti kriteria keberhasilan yang diharapkan telah tercapai.Leksikal (43) Struktural (11)
4.Pada  siklus  I  terdapat  kekurangan  dan  kelebihan  aktivitas  siswa  dan  guru, dimana  kekurangannya  pada  aktivitas  siswa  antara  lain  untuk  aspek  semangat mengikuti kegiatan pembelajaran, memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru, mencatat hal-hal penting saat proses pembelajaran, berani bertanya kepada guru, berani menjawab pertanyaan guru, dan mengerjakan tugas tepat waktu.Leksikal (41) Struktural (7)
5.Sedangkan kelebihannya   yaitu   untuk   aspek   aktivitas   dalam   berdiskusi   kelompok,   tekun mengerjakan tugas, dan siswa tidak keluar masuk pada saat pembelajaran.  Leksikal (15) Struktural (5)
6.Selanjutnya, kekurangan aktivitas guru yaitu pada aspek   membuka pelajaran/apersepsi, pengelolaan kelas, pemberian motivasi dalam belajar, penjelasan materi, kemampuan   melakukan   evaluasi,   menyimpulkan   materi   pelajaran,   dan pemberian umpan balik. Leksikal (24) Struktural (4)

Berdasarkan persentase kalimat yang memiliki kata leksikal dan kata struktural maka dapat disimpulkan bahwa 50% dari sampel 6 kalimat yang dianalisis menunjukkan bahwa teks akademik berupa teks pembahasan artikel ilmiah yang ditulis oleh Vivi Afrilia Sari yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Unsur-Unsur Cerita Pendek Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Di Kelas V Sdn No. 170/I Kehidupan Baru menunjukkan bahwa teks pembahasan artikel ilmiah ini dapat dikatakan ilmiah. Hal ini dibuktikan dari persentase kata leksikal sebanyak 171 kalimat (80,5%) dan kata struktural sebanyak 38 kalimat (19,5%) dari jumlah keseluruhan 209 kalimat.

  • Nominalisasi pada Teks Akademik

Realisasi leksis pada teks-teks akademik yang dinominalisasikan digunakan untuk memadatkan informasi. Sebagai upaya pembendaan, nominalisasi ditempuh dengan mengubah leksis nonbenda (antara lain verba, adjectiva, adverbia, konjungsi) menjadi leksis benda (nomina). Nominalisasi pada teks akademik ditujukan untuk mengungkapkan pengetahuan yang lebih ringkas dan padat . Oleh karena itu, nominalisasi menjadi ciri yang sangat penting pada teks akademik.

Pada bagian analisis nominalisasi pada teks akademik, peneliti mengambil sampel 6 kalimat (50%) dari 12 kalimat pada bagian pembahasan.

Tabel 3. Nominalisasi pada Teks Akademik

NoKalimatKeterangan
1.Hasil penelitian tindakan dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus, ternyata dapat menguji hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini.-Pada kalimat (1,2,3,4,5,6,7,8) contoh-contoh nominalisasi yang dimaksud dicetak berwarna.- Contoh-contoh diambil dari bagian pembahasan artikel ilmiah yang dianalisis tersebut mengandung nominalisasi: (1) penelitian, tindakan (yang dibendakan dari verba: meneliti, bertindak).
(2) penelitian, tindakan (yang dibendakan dari verba: meneliti, bertindak).
(3) penelitian, tindakan (yang dibendakan dari verba: meneliti, bertindak) dan keberhasilan (yang dibendakan dari adjectiva: berhasil).
(4) kekurangan, kelebihan (yang dibendakan dari adjectiva: kurang, berhasil) dan pembelajaran, penjelasan (yang dibendakan dari verba: belajar, jelas).
(5) kelebihan (yang dibendakan dari adjectiva: lebih) dan pembelajaran, (yang dibendakan dari verba: belajar)
(6) kekurangan, kemampuan (yang dibendakan dari adjectiva: kurang, mampu) dan pengelolaan, pemberian, penjelasan (yang dibendakan dari verba: kelola, beri, jelas).
2.Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan yaitu “Dengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi Unsur–Unsur Cerita Pendek dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN No. 170/I Kehidupan Baru.
3.Kemudian yang menjadi kriteria keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagaimana dikemukakan pada Bab III adalah jika nilai yang diukur dengan lembaran tes (variabel hasil belajar) mencapai nilai minimal 65 dalam skala 10-100 dengan  persentase  80%,  artinya  jika  80%  dari  seluruh  siswa  telah  mencapai  nilai minimal 65 berarti kriteria keberhasilan yang diharapkan telah tercapai.
4.Pada  siklus  I  terdapat  kekurangan  dan  kelebihan  aktivitas  siswa  dan  guru, dimana  kekurangannya  pada  aktivitas  siswa  antara  lain  untuk  aspek  semangat mengikuti kegiatan pembelajaran, memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru, mencatat hal-hal penting saat proses pembelajaran, berani bertanya kepada guru, berani menjawab pertanyaan guru, dan mengerjakan tugas tepat waktu.  
5.Sedangkan kelebihannya   yaitu   untuk   aspek   aktivitas   dalam   berdiskusi   kelompok,   tekun mengerjakan tugas, dan siswa tidak keluar masuk pada saat pembelajaran.  
6.Selanjutnya, kekurangan aktivitas guru pada yaitu pada aspek   membuka pelajaran/apersepsi, pengelolaan kelas, pemberian motivasi dalam belajar, penjelasan materi, kemampuan   melakukan   evaluasi,   menyimpulkan   materi   pelajaran,   dan pemberian umpan balik.

Dari hasil analisis pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa nominalisasi mengakibatkan pemadatan informasi. Pemadatan informasi akan menjadi semakin kompleks apabila dua atau lebih leksis hasil nominalisasi tersebut dihimpun dalam satu gugusan pada kelompok nomina. Hasil penghimpunan yang diambil dari kalimat (1,2,3,4,5,6,7,8) di atas adalah “Hasil penelitian tindakan dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus”, Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan”, “Kemudian yang menjadi kriteria keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagaimana dikemukakan pada Bab III”, “Pada  siklus  I  terdapat  kekurangan  dan  kelebihan  aktivitas  siswa  dan  guru”, “Sedangkan kelebihannya   yaitu   untuk   aspek   aktivitas   dalam   berdiskusi   kelompok,   tekun mengerjakan tugas, dan siswa tidak keluar masuk pada saat pembelajaran”, “Selanjutnya, kekurangan aktivitas guru”. Dari teks-teks akademik yang dicontohkan, gugusan leksis cenderung berupa kelompok nomina sehingga dari sudut pandang nominalisasi dapat disimpulkan bahwa teks-teks tersebut menunjukkan ciri keilmiahan secara ideasional.

  • Metafora Gramatika pada Teks Akademik

Metafora gramatika adalah pergeseran dari satu jenis leksis ke leksis lain atau dari tataran gramatika yang lebih tinggi ke tataran gramatika yang lebih rendah. Dari segi metafora gramatika teks-teks akademik menunjukkan ciri keilmiahan baik secara ideasional maupun tekstual. Secara ideasional, melalui metafora gramatika isi materi yang disampaikan menjadi lebih padat dan secara tekstual, cara penyampaian materi yang melibatkan tataran tersebut berdampak pada perbedaan tata organisasi di tingkat kelompok kata atau kalimat.

      Metafora gramatika pada bagian pembahasan artikel ini ditunjukkan dengan leksis-leksis yang mengalami pergeseran.

Tabel 4. Pemanfaatan Metafora Gramatika

NoKalimatKeterangan
1.Hasil penelitian tindakan dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus, ternyata dapat menguji hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini.Kalimat-kalimat yang digunakan sudah memanfaatkan metafora gramatika melalui ungkapan inkongruen.Kalimat simpleks yang digunakan penulis merupakan pemadatan atau pergeseran dari beberapa kalimat sekaligus.
2.Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan yaitu “Dengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi Unsur–Unsur Cerita Pendek dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN No. 170/I Kehidupan Baru.
3.Kemudian yang menjadi kriteria keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagaimana dikemukakan pada Bab III adalah jika nilai yang diukur dengan lembaran tes (variabel hasil belajar) mencapai nilai minimal 65 dalam skala 10-100 dengan  persentase  80%,  artinya  jika  80%  dari  seluruh  siswa  telah  mencapai  nilai minimal 65 berarti kriteria keberhasilan yang diharapkan telah tercapai.
4.Pada  siklus  I  terdapat  kekurangan  dan  kelebihan  aktivitas  siswa  dan  guru, dimana  kekurangannya  pada  aktivitas  siswa  antara  lain  untuk  aspek  semangat mengikuti kegiatan pembelajaran, memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru, mencatat hal-hal penting saat proses pembelajaran, berani bertanya kepada guru, berani menjawab pertanyaan guru, dan mengerjakan tugas tepat waktu.  
5.Sedangkan kelebihannya   yaitu   untuk   aspek   aktivitas   dalam   berdiskusi   kelompok,   tekun mengerjakan tugas, dan siswa tidak keluar masuk pada saat pembelajaran.  
6.Selanjutnya, kekurangan aktivitas guru pada yaitu pada aspek   membuka pelajaran/apersepsi, pengelolaan kelas, pemberian motivasi dalam belajar, penjelasan materi, kemampuan   melakukan   evaluasi,   menyimpulkan   materi   pelajaran,   dan pemberian umpan balik.
  • Istilah Teknis pada Teks Akademik

Pada prinsipnya istilah teknis merupakan penamaan kepada sesuatu dengan menggunakan nomina. Istilah teknis merupakan salah satu ciri penting pada teks akademik karena digunakan sesuai dengan tuntutan bidang ilmu dan latar pokok persoalan yang disajikan di dalamnya. Terkait dengan bidang ilmu, istilah teknis yang sama mungkin mengandung makna yang berbeda apabila istilah tersebut digunakan di bidang ilmu yang berbeda.

Pada teks akademik bagian pembahasan artikel yang dianalisis dapat ditemukan beberapa istilah teknis yang terkait dengan bidang ilmu dan pokok persoalan yang disajikan. Hal tersebut seperti yang terlihat pada kata yang dicetak berwarna pada kalimat berikut :

Tabel 5. Istilah Teknis pada Teks Akademik

NoKalimatArti/Makna Istilah Teknis
1.Hasil penelitian tindakan dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus, ternyata dapat menguji hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini.Siklus mengandung makna  putaran waktu yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian yang berulang-ulang  secara tetap dan teratur. Dan Hipotesis bermakna jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
2.Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan yaitu “Dengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi Unsur–Unsur Cerita Pendek dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN No. 170/I Kehidupan Baru.Model pembelajaran Cooperative Learning bermakna suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama.
6.Selanjutnya, kekurangan aktivitas guru pada yaitu pada aspek   membuka pelajaran/apersepsi, pengelolaan kelas, pemberian motivasi dalam belajar, penjelasan materi,   kemampuan   melakukan   evaluasi,   menyimpulkan   materi   pelajaran,   dan pemberian umpan balik.Apersepsi bermakna suatu bentuk kegiatan yang dilakukan diawal proses pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang bertujuan untuk memotivasi anak didik.
  • Taksonomi dan abstrak pada Teks Akademik

     Pada dasarnya taksonomi adalah pemetaan pokok persoalan melalui klasifikasi terhadap sesuatu. Sedangkan teks akademik dikatakan abstrak karena pokok persoalan yang dibicarakan didalamnya seringkali merupakan hasil dari pemformulasian nyata menjadi teori.

NoKalimatKeterangan
1.Hasil penelitian tindakan dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus, ternyata dapat menguji hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini.Bersifat abstrak karena pokok persoalan yang dibicarakan merupakan pemformulasikan nyata pada teori.
2.Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan yaitu “Dengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi Unsur–Unsur Cerita Pendek dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN No. 170/I Kehidupan Baru.Bersifat taksonomik karena pokok persoalan diklasifikasikan.
3.Kemudian yang menjadi kriteria keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagaimana dikemukakan pada Bab III adalah jika nilai yang diukur dengan lembaran tes (variabel hasil belajar) mencapai nilai minimal 65 dalam skala 10-100 dengan  persentase  80%,  artinya  jika  80%  dari  seluruh  siswa  telah  mencapai  nilai minimal 65 berarti kriteria keberhasilan yang diharapkan telah tercapai.Bersifat taksonomik karena pokok persoalan diklasifikasikan
4.Pada  siklus  I  terdapat  kekurangan  dan  kelebihan  aktivitas  siswa  dan  guru, dimana  kekurangannya  pada  aktivitas  siswa  antara  lain  untuk  aspek  semangat mengikuti kegiatan pembelajaran, memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru, mencatat hal-hal penting saat proses pembelajaran, berani bertanya kepada guru, berani menjawab pertanyaan guru, dan mengerjakan tugas tepat waktu.  Bersidat abstrak karena pokok persoalan yang dibicarakan merupakan pemformulasian nyata menjadi teori.
5.Sedangkan kelebihannya   yaitu   untuk   aspek   aktivitas   dalam   berdiskusi   kelompok,   tekun mengerjakan tugas, dan siswa tidak keluar masuk pada saat pembelajaran.  Bersifat abstrak karena pokok persoalan yang dibicarakan merupakan pemformulasian nyata menjadi teori.
6.Selanjutnya, kekurangan aktivitas guru pada yaitu pada aspek   membuka pelajaran/apersepsi, pengelolaan kelas, pemberian motivasi dalam belajar, penjelasan materi, kemampuan   melakukan   evaluasi,   menyimpulkan   materi   pelajaran,   dan pemberian umpan balik. Bersifat abstrak karena pokok persoalan yang dibicarakan merupakan pemformulasian nyata menjadi teori.
  • Pengacuan Esfora pada Teks Akademik

Pengacuan esfora dimanfaatkan pada teks akademik untuk menunjukkan prinsip generalitas, bahwa benda yang disebut di dalam kelompok nomina tersebut bukan benda yang mengacu kepada penyebutan sebelumnya (Martin, 1992:138). Benda yang diacu berupa kalimat sematan yang diletakkan di dalam tanda [[…]], atau kelompok adverbia yang diletakkan di dalam tanda […].

  • Hasil penelitian tindakan [dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus…] (Teks Pembahasan, Vivi Afrilia Sari, 2014)

Keterangan   : “Hasil penelitian tindakan”mengacu pada “[dengan menggunakan pola 3 (tiga) siklus…]”

  • Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan [[pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan…]] (Teks Pembahasan, Vivi Afrilia Sari, 2014)

Keterangan   : “Berdasarkan kerangka berfikir yang disajikan” mengacu pada “[[pada Bab II, dalam penelitian ini diajukan hipotesis tindakan…]]”

  • Pada  siklus  I  terdapat  kekurangan  dan  kelebihan  aktivitas  siswa  dan  guru, dimana  [kekurangannya  pada  aktivitas  siswa  antara  lain  untuk  aspek  semangat…] (Teks Pembahasan, Vivi Afrilia Sari, 2014)

Keterangan   : “Pada  siklus  I  terdapat  kekurangan  dan  kelebihan  aktivitas  siswa  dan  guru, dimana  ”mengacu pada ”[kekurangannya  pada  aktivitas  siswa  antara  lain  untuk  aspek  semangat…]

  • Sedangkan kelebihannya   yaitu   [[untuk   aspek   aktivitas   dalam   berdiskusi   kelompok…]]  (Teks Pembahasan, Vivi Afrilia Sari, 2014)

Keterangan   : “Sedangkan kelebihannya   yaitu ”mengacu pada [[untuk   aspek   aktivitas   dalam   berdiskusi   kelompok…]].

  1.      KESIMPULAN

Masalah utama yang diteliti pada artikel ilmiah ini adalah realisasi ciri-ciri teks akademik yang mencakup sederhana dalam hal struktur kalimat, padat informasi, banyak memanfaatkan nominalisasi, memanfaatkan metafora gramatika, memanfaatkan istilah teknis, bersifat taksonomi dan abstrak serta banyak memanfaatkan sistem pengacuan esfora.  Data pada penelitian ini adalah bagian pembahasan pada artikel yang berupa runtutan kata dan kalimat, terdiri dari 12 kalimat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks pembahasan artikel ilmiah yang ditulis oleh Vivi Afrilia Sari yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Materi Unsur-Unsur Cerita Pendek Melalui Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw Di Kelas V Sdn No. 170/I Kehidupan Baru dapat dikategorikan sebagai teks yang bersifat ilmiah. Hal tersebut disimpulkan karena ciri-ciri teks akademik yang banyak menggunakan kalimat simpleks dibandingkan dengan kalimat kompleks sehingga kalimat dalam teks pembahasan artikel ilmiah ini padat informasi, banyak menggunakan kata-kata leksikal dibandingkan dengan kata struktural, proses nominalisasi, pemanfaatan metafora gramatika, pemanfaatan istilah teknis, pemanfaatan pengacuan esfora, dan teks yang bersifat taksonomi dan abstrak.

  • DAFTAR PUSTAKA
  • Agustiana, Vivi. 2011. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran SAINS dengan Model Cooperatif Learning Tipe Teams Games Tournaments di Kelas V SDN No. 111/IX Muhajirin. Jambi: Universitas Jambi.
  • Anonim,           2011.           Tujuan           Pembelajaran           Bahasa           Indonesia. http://www.sekolahdasar.net/2011/10/tujuan pembelajaran bahasa indonesia di.html?m=1. Diunggah 20 September 2013.
  • Anonim.      2013.     Hakikat     pembelajaran      Bahasa     Indonesia.     http://www. trigonalword.com/2013/04/hakikatpembelajaranbahasaindonesia.  Diunggah  26
  • Agustus 2013.
  • Arikunto. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Budi Aksara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *