Kajian Peran Perempuan dalam Membangun Negeri di MT Roudlotul Qur’an Desa Ciburayut

Perempuan menjadi pemimpin, perempuan berani bersuara, perempuan memiliki cita-cita tinggi terkadang dianggap sebagai hal yang tabu. Banyak perempuan  belum menyadari akan peran dan potensi yang dimiliki, entah karena faktor pribadi yang memang enggan untuk mengembangkan diri atau karena faktor lingkungan yang tidak mendukung. Serta masih banyak perempuan-perempuan bahkan orang tua yang menganggap bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, karena mereka menganggap bahwa pada akhirnya saat berumah tangga perempuan akan kembali ke dapur.

Padahal akan jelas berbeda jika dalam berumah tangga seorang ibu atau istri memiliki pendidikan tinggi atau wawasan yang luas. Seperti yang kita tahu bahwa ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, dengan pendidikan tinggi dan wawasan luas yang dimiliki seorang ibu, maka besar kemungkinan anaknya kelak akan menjadi anak yang cerdas, berpikir kritis dan berpengetahuan luas. Selain itu, seorang ibu pun memiliki peran besar dalam mengelola rumah tangga dan tentunya semua itu membutuhkan pengetahuan dan pemahaman.

Perempuan dapat diibaratkan sebagai sekolah, jika dididik dengan baik berarti telah mempersiapkan sebuah bangsa dengan baik. Sehingga tidak alasan bagi perempuan untuk tidak mau mengembangkan diri, meskipun nanti memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga saja.

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW., tercatat banyak figur perempuan yang dapat menginspirasi kaum perempuan dalam mengembangkan potensi dan menjalankan perannya dengan baik. Contohnya Ummul mukminin Khadijah RA. yang mau memberikan hartanya demi dakwah yang dilakukan oleh Nabi atau Sayyidah Aisyah R.A yang telah meriwayatkan banyak hadits. Karena dalam Islam pun tidak ada batasan bagi perempuan untuk dapat berpartisipasi, berperan aktif dalam bermasyarakat dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Memberikan pemahaman kepada perempuan tentang peran penting yang dimiliki menjadi PR besar bagi kita semua. Khususnya bagi perempuan di daerah-daerah yang minim akan pemahaman tentang peran dan hak-hak perempuan. Sehingga kedepannya tidak ada lagi batasan bagi perempuan dalam mengembangkan dirinya.

Momentum KKN yang dilaksanakan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan Universitas Djuanda menjadi kesempatan bagi saya sebagai peserta KKN untuk mengadakan kajian tentang “Peran Perempuan dalam Membangun Negeri”. Pelaksanaan kajian diadakan melalui kerjasama dengan MT Roudlotul Qur’an yang ada di Desa Ciburayut.

Sasaran dalam kegiatan ini adalah ibu-ibu di Desa Ciburayut dengan tujuan agar dapat memberi pemahaman terkait kesamaan hak yang dimiliki oleh perempuan dalam menuntut ilmu dan mengembangkan potensi diri. Selain itu, peran seorang ibu dalam mencetak generasi penerus bangsa, agar kedepannya anak-anak perempuan tidak lagi diberi batasan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Pertemuan pertama dilaksanakan di Aula PP. Roudlotul Qur’an pada hari Kamis, 12 Agustus 2021 pukul 08.30-09.30 WIB, diikuti oleh 18 jama’ah majlis ta’lim Roudlotul Qur’an yang terdiri dari ibu-ibu muda yang baru memiliki anak satu sampai yang sudah memiliki cucu. Kajian yang diberikan yaitu tentang Gender dalam Perspektif Islam. Dengan pembahasan berupa: (1) bagaimana Al-Qur’an memuliakan perempuan, (2) ayat-ayat tentang bagaimana kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di mata Allah SWT, dan (3) hak-hak perempuan dalam menuntut ilmu serta mengembangkan potensi diri.

Serta memberikan pemahaman bahwa Islam menempatkan perempuan pada posisi terhormat dan kaum perempuan harus bisa menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk terus maju dan berkembang agar dapat memberikan manfaat untuk orang banyak. Hal ini juga merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT. atas kemuliaan dan keutamaan yang diberikan untuk kaum perempuan.

Cara penyampaian materi dilakukan dengan santai dan menggunakan bahasa sederhana agar dapat diterima dan mudah dipahami oleh jama’ah. Di luar ekspektasi ternyata jama’ah memiliki antusias yang tinggi untuk mengetahui lebih jauh terkait dengan gender dan peran perempuan, hal ini terlihat dari jama’ah yang aktif menjawab setiap kali ada pertanyaan-pertanyaan sederhana yang saya ajukan dan meminta untuk diadakan kembali kajian tentang perempuan.

Namun pada saat diskusi jama’ah masih belum berani untuk banyak bertanya, karena bisa dibilang masih sangat jarang adanya diskusi dalam setiap kajian yang diadakan oleh majlis ta’lim yang dilaksanakan di Desa Ciburayut. Kegiatan tetap menjaga protokol kesehatan di masa PPKM Jawa Bali karena pandemik Covid-19. (Yuliani, mahasiswa PBA KKN FKIP 2021)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *