Konsep Pendidikan Inklusif

Latar Belakang Pendidikan Inklusif

Pada tahun 1960 an Amerika mulai menggeliat dengan untuk mempelajari pendidikan luar biasa yang diprakarsai oleh negara skandinavia (Denmark, Norwegia, dan Swedia). Akhirnya di Inggris tahun 1991 mulai diperkenalkan konsep pendidikan inklusif atas dasar pergeseran model pendidikan. Sedangkan di Indonesia pendidikan yang memperhatikan bagi anak tunanetra, konsep pendidikan special menjadi proses dikotomi pendidikan regular dengan pendidikan khusus (Baharun, & Awwaliyah, 2018).
Tuntutan pendidikan inklusif semakin nyata melalui konvensi di tahun 1989 dan konferensi di Bangkok tahun 1991 yang menghasilkan deklarasi “education for all” (Saputra, 2016). Langkah nyata tahun 1994 diadakan konvensi Salamanca di Spanyol yang dikenal dengan nama “the Salamanca statement on inclusive education”. Poin-poin penting hasil konvensi tersebut antara lain:
a. Semua anak sebaiknya belajar bersama
b. Pendidikan didasarkan kebutuhan anak
c. ABK diberikan layanan khusus.

Pendidikan inklusif di Indonesia berkembang melalui konvensi nasional di Bandung untuk memperjuangkan hak anak dengan hambatan belajar, yang selanjutnya diadakan simposium internasional di Bukittinggi tahun 2005. Isinya menekankan perlunya program pendidikan inklusif sebagai cara menjamin hak semua anak untuk benar-benar memperoleh pendidikan. Sebelum lebih lanjut ke konsep pendidikan inklusif, ada tiga konsep yang perlu dipahami.

  1. Konsep pendidikan Segregasi adalah sistem pendidikan yang memisahkan antara pendidikan khusus dengan pendidikan reguler biasanya dikenal sistem pendidikan segregasi dimana kecacatan anak lebih ditonjolkan dan kurang memperhatikan kebutuhan/perbedaan individual. Pemahaman pendidikan berbasis kepada anak penyandang cacat terus berkembang dengan sudut pandang yang lebih humanistic, menghargai perbedaan individu dan kebutuhan anak menjadi pusat perhatian. Dengan begitu munculah layanan pendidikan yang tidak didasarkan kecacatan anak namu kepada kebutuhan individu anak yang disebut dengan pendidikan inklusif.
  2. Pendidikan Integrasi/terpadu adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan belajar kepada anak/siswa berkebutuhan khusus untuk mengikuti pendidikan di sekolah reguler tanpa adanya perbedaan atau perlakuan khusus. Sekolah ini biasanya tetap menerapkan kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana prasarana dan sistem pembelajaran reguler. Dengan kata lain, sistem pendidikan terpadu menuntut anak berkebutuhan khusus mengikuti pola pembelajaran sekolah reguler.
  3. Pendidikan Inklusif adalah sistem pendidikan yang mengupayakan pelayanan secara optimal bagi anak berkebutuhan khusus dengan melakukan modifikasi /penyesuaian mulai dari kurikulum, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana prasarana dan sistem pembelajaran bahkan sampai kepada sistem penilaian yang dilakukan. Pendidikan inklusif menekankan pihak sekolah harus dapat menyesuaikan sistem pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu anak.

Konsep Pendidikan Inklusif

  1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009 menyatakan pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.
  2. Mukhtar Latif dkk (Baharun, & Awwaliyah, 2018). mengemukakan pendidikan inklusif merupakan sistem layanan yang mempersyaratkan anak berkebutuhan khusus bersama teman sebayanya yang diselenggarakan oleh sekolah inklusif dengan sebuah pendekatan untuk mentransformasikan pendidikan dengan mengurangi hambatan yang menghalangi siswa berpartisipasi dalam pendidikan secara penuh.
  3. Herawati (2012) pendidikan inklusif dimaksudkan sebagai sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terdekat dengan tempat tinggalnya. Semangat penyelenggaraan pendidikan inklusif adalah memberikan kesempatan atau kasus yang seluas-luasnya kepada semua anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa diskriminasi.
  4. Muniarti dan Anastasia (2016) menyatakan pendidikan inklusif bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi seluruh peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus atau yang berbakat seluas-luasnya untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang berkualitas dan bermakna sekaligus juga mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif.
  5. Direktorat Pendidikan Luar Biasa memberikan arahan bahwa yang dimaksud dengan inklusif adalah keterbukaan untuk belajar bersama bagi semua peserta didik tanpa kecuali (Baharun, & Awwaliyah, 2018). Anak berkebutuhan khusus yang harus mendapatkan layanan pendidikan intensif adalah : (1) Tunanetra, (2) Tunarungu, (3) Tunawicara, (4) Tunagrahita, yaitu anak dengan keterbelakangan mental menunjukkan keterlambatan perkembangan pada hampir seluruh aspek fungsi akademik dan fungsi social, (5) Tunadaksa, yaitu anak yang mengalami bentuk kelainan atau kecacatan pada sistem otot, tulang, dan persendian (6) Tunalaras, (7) Berkesulitan belajar, yaitu anak mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademiknya yang disebabkan oleh adanya disfungsi minimal otak sehingga prestasi belajarnya tidak sesuai dengan potensi yang sebenarnya, (8) Lamban belajar, yaitu anak yang kurang mampu menguasai pengetahuan dalam batas waktu yang ditentukan karena ada faktor tertentu yang mempengaruhinya, (9) Autis, yaitu anak yang mengalami gangguan perkembangan dan ditandai oleh ketidakmampuan anak untuk berhubungan dengan orang lain, (10) Memiliki gangguan motoric, (11) Menjadi korban penyalahgunaan narkoba/zat aditif, (12) Memiliki kelainan, (13) Tuna Ganda, yaitu anak yang mengalami kelainan lebih dari satu jenis kelainan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan inklusif menyamakan hak dan kesempatan bagi anak/peserta didik yang berkebutuhan khusus untuk mengembangkan potensi kecerdasan dan bakat istimewa peserta didik dalam lingkungan pendidikan bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik. Untuk itu proses identifikasi dan asesmen yang akurat perlu dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan atau profesional di bidangnya untuk dapat menyusun program pendidikan yang sesuai dan objektif.

Tujuan Pendidikan Inklusif

Tujuan pendidikan inklusif yang tercantum dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2003, Sisdiknas Pasal 1, ayat 1 : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi pribadinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Tujuan pendidikan inklusif adalah memberikan intervensi bagi anak berkebutuhan khusus sedini mungkin.

  1. Untuk meminimalkan keterbatasan kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak dan untuk memaksimalkan kesempatan anak terlibat dalam aktivitas yang normal.
  2. Jika memungkinkan untuk mencegah terjadinya kondisi yang lebih parah dalam ketidakteraturan perkembangan sehingga menjadi anak yang tidak berkemampuan.
  3. Untuk mencegah berkembangnya keterbatasan kemampuan lainnya sebagai hasil yang diakibatkan oleh ketidakmampuan utamanya

Landasan yuridis yang dijadikan dasar hukum pendidikan inklusif antara lain:

  • Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989.
  • Deklarasi Pendidikan untuk semua di Thailand Tahun 1990.
  • Kesepakatan salamanka tentang Pendidikan Inklusi Tahun 1994.
  • UU No.4 tentang Penyandang Cacat Tahun 1997.
  • UU No. 23 tentang Perlindungan Hak Anak Tahun 2003.
  • PP No. 19 tentang Standar Pendidikan Nasional Tahun 2004.
  • Deklarasi Bandung tentang Menuju Pendidikan Inklusi Tahun 2004.
  • Rekomendasi Bukittinggi (2005)

SUMBER BACAAN ARTIKEL PENDIDIKAN INKLUSIF

  • Murniarti, E., & Anastasia, N. Z. (2016). Pendidikan Inklusif Di Tingkat Sekolah Dasar. Jurnal Dinamika Pendidikan, 9(1), 9-18.
  • Saputra, A. (2016). Kebijakan Pemerintah Terhadap Pendidikan Inklusif. Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 1(3), 1-15.
  • Baharun, H., & Awwaliyah, R. (2018). Pendidikan Inklusi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Perspektif Epistemologi Islam. MODELING: Jurnal Program Studi PGMI, 5(1), 57-71.
  • Herawati, N. I. (2012). Pendidikan Inklusif. EduHumaniora| Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru, 2(1).

43 thoughts on “Konsep Pendidikan Inklusif

  1. Ela Nurlaela says:

    Saya berharap sosialisasi pendidikan inklusif agar lebih diintensifkan, tidak hanya oleh dunia pendidikan tetapi juga semua unsur yang peduli akan anak bangsa, baik itu melalui media(berbagai visual) maupun sosialissasi secara langsung kepada masyarakat luas diantaranya mengenai positifnya pendidikan inklusif dan pendekatan kepada orangtua yang tertutup bila mempunyai anak yang ABK (kebanyakan orang pedesaan atau daerah tertinggal yang belum tersentuh pendidikan inklusif karena terbatasnya segala bentuk akses).

  2. Ela Nurlaela says:

    Saya berharap sosialisasi pendidikan inklusif agar lebih diinstensifkan tidak hanya oleh dunia pendidikan tapi semua unsur yang peduli akan anak bangsa, baik itu melalui media(berbagai visual) maupun sosialissasi secara langsung kepada masyarakat luas diantaranya mengenai positifnya pendidikan inklusif dan pendekatan kepada orangtua yang tertutup bila mempunyai anak yang ABK (kebanyakan orang pedesaan atau daerah tertinggal yang belum tersentuh pendidikan inklusif karena keterbatasan akses)

  3. Suhilman says:

    Dengan adanya pembelajaran insklusif semoga pemahan saya terhadap anak yg memang mempunyai kebutuhan khusus bisa terdeteksi sedini mungkin agar semua anak mendapatkan hak yg sama dalam hidup

  4. Tina Rudiantini says:

    dengan adanya sistem pendidikan inklusi in, kita dapat membangun kesadaran dan menghilangkan sikap diskriminatif terhadap anak berkebutuhan khusus. dan dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing masing, tanpa membeda bedakan

      • Siti Nur Paridotul R says:

        Pendidikan inklusi sangat penting dipelajari oleh kita selalu calon pendidik. Semoga dengan mempelajari pendidikan inklusi kita bisa berkontribusi dalam pemerataan pendidikan di indonesia agar mereka yang berkebutuhan khusus pun mendapatkan hal yang sama dalam pendidikan dan dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki

  5. Isnaini Alawiyah says:

    Pada dasarnya, pendidikan inklusif diciptakan dengan tujuan memberikan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus atau ABK. Mereka bisa sama sama merasakan belajar seperti anak normal lainnya. Yang membedakannya hanyalah cara guru menyampaikan materi kepada abk tersebut. Seorang guru perlu berlatih keras supaya bisa menyeimbangkan kondisi dirinya dengan ABK tersebut.

  6. Ela Nurlaela says:

    saya berharap sosialisasi pendidikan inklusif agar lebih diintensifkan tidak hanya oleh dunia pendidikan, tetapi semua unsur yang peduli akan anak bangsa, baik itu melalui media (berbagai visual) maupun sosialisasi secara langsung kepada masyarakat luas diantaranya mengenai positifnya pendidikan inklusif dan pendekatan kepada orangtua yang tertutup bila mempunyai anak yang ABK (Kebanyakan orang pedesaan atau daerah tertinggal yang belum tersentuh pendidikan inklusif karena keterbatasan berbagai macam akses).

  7. Susi Eka Novianti says:

    Menurut saya pemerintah perlu melakukan pelatihan khusus yg berkala untuk guru guru yang di peruntukan menangani Abk agar anak- anak berkebutuhan Khusus bisa belajar secara maximal

  8. Rindiani Salsabila says:

    Harapan saya dengan adanya pendidikan inklusif ini dapat membukan jalan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat menumbuh kembangkan potensi yang dimiliki sang anak, tidak adanya perlakuan yang membedakan antara anak abk dengan anak-anak lain pada umumnya. Pendidikan inklusif ini menurut saya harus dipelajari oleh siapapun, tidak hanya GPK dan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tetapi juga kita sebagai calon pendidik, calon orang tua, dan masyarakat biasa, agar mampu memperlakukan ABK dengan baik dan sesuai dengan yang seharusnya.

  9. EVIH SUSILAWATI says:

    Pendidikan inklusi berarti mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik dan intelektual. Jadi dengan adanya pendidikan inklusif anak berkebutuhan khusus bisa di satukan dengan anak pada umumnya dengan pendampingan dari guru yg terlatih dengan tidak dibeda-bedakan . Sehingga bisa mengembangkan kecerdasan dan potensi yang anak miliki , mereka tidak tertinggal dan juga memiliki kesempatan untuk merubah keterbatasannya menjadi sebuah kelebihan.

  10. Natasha Almas Shadida says:

    Sejatinya pendidikan inklusif ini diciptakan untuk memudahkan ABK untuk belajar agar bisa disamaratakan dengan anak normal lainnya. Karna bisa kita lihat bahwa banyak sekali kekurangan dari segi sarana prasaran pendidikan juga dari segi kurikulum. Semoga dengan adanya pendidikan inkusif ini lebih banyak tenaga pendidik yang terlatih dalam kasus ABK ini.

  11. M.Nurdin says:

    Semoga pendidikan inkulusi menjadi prioritas bagi seluruh anak yang berkebutuhan khusus ABK dan anak-anak yang lainnya. dengan mengacu kepada tujuan pendidikan oleh pemerintah yaitu:Tujuan pendidikan inklusif yang tercantum dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 2003, Sisdiknas Pasal 1, ayat 1 : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi pribadinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

  12. Yuniarti Rahayu says:

    Pendidikan inklusif memberi manfaat yang lebih baik terutamna bagi guru yang belum mengenal pendidikan inklusif secara utuh, semoga ABK teraktualisasi keberadaannya dimasyarakat umum..

  13. Anida Khuzaima Hakim says:

    Kalau nurut nida pendidikan inklusif juga harus diberikan kepada orang tua. Jadi gak cuman guru aja yang paham tentang anaknya tapi juga orang tuanya.
    Kan ada orang tua yang hanya menganggap anaknya itu gak normal sehingga pembelajaran dirumahnya kurang diperhatikan karna di anggap sulit.

  14. Siti Nur Paridotul R says:

    Pendidikan inklusi sangat penting dipelajari oleh kita selalu calon pendidik. Semoga dengan mempelajari pendidikan inklusi kita bisa berkontribusi dalam pemerataan pendidikan di indonesia agar mereka yang berkebutuhan khusus pun mendapatkan hal yang sama dalam pendidikan dan dapat mengembangkan potensi yang mereka miliki

  15. Pratiwi Rahim says:

    Menurut saya Pendidikan inklusif sangat sulit diterapkan di Sekolah dasar karena perlengkapan sarana prasarana belum bisa memenuhi kebutuhan anak ABK dan guru-gurunya belum mampu menanganinya karena belum terlatih.
    Jadi anak ABK dalam belajar masih disamakan dengan anak yang normal.
    Jadi mudah-mudahan disetiap sekolah ada guru yang dilatih khusus untuk menanganinya anak ABK

  16. Pratiwi Rahim says:

    Pendidikan inklusif sangat sulit diterapkan di SD karena perlengkapan sarana prasarana belum bisa memenuhi kebutuhan anak ABK dan guru-gurunya belum mampu menanganinya karena belum terlatih. Jadi anak ABK dalam belajar masih disamakan dengan anak yang normal.
    Mudah-mudahan disetiap sekolah ada guru yang dilatih khusus untuk menangani anak ABK.

  17. Ismawarti Hasyim says:

    Melalui pendidikan inklusif, guru dan kepala sekolah harus terus mengasah kreativitas dan inovasi untuk melayani dan menyelenggarakan pembelajaran sesuai karakteristik yang beragam tersebut. Diharapkan dengan karakteristik beragam mulai dari perbedaan latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya dapat teramu dengan baik dengan adanya pendidikan inklusif agar dapat menumbuhkan sikap saling menghormati dan saling menghargai perbedaan pada diri anak.

  18. Tiara Pasambuna says:

    Dengan adanya pendidikan inklusif memungkinkan ABK bersekolah di sekolah manapun sesuai dengan keinginannya. Namun pada kenyataannya belum banyak sekolah yang siap menerima ABK dengan berbagai alasan. Hal ini sungguh sangat disayangkan. Semoga saja pemerintah mau memerhatikan pendidikan inklusif lebih dalam lagi.

      • Sinta Suryani says:

        Semoga dengan adanya pendidikan inklusif di setiap sekolah ada guru yang benar-benar di latih khusus untuk anak ABK, agar anak-anak ABK bisa bersekolah di lingkungan sekitarnya. Dan seorang guru harus mempunyai sikap positif terhadap pendidikan inklusif ini.

  19. Wulanda yanti says:

    Semoga pendidikan inklusif bisa diterapkan disetiap sekolah dan pihak sekolah mampu memberikan fasilitas yang baik bagi anak ABK agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang sama halnya dengan anak yang lain.

  20. Siti Maryati says:

    Pendidikan inklusif di Indonesia memerlukan perhatian yang lebih. Sekolah tidak bisa menolak atau harus menerima anak yang memiliki kebutuhan khusus, sedangkan sarana dan prasarana untuk anak berkebutuhan khusus sendiri masih kurang mendapatkan perhatian. Anak yang seharusnya berkembang malah memperoleh perlakuan diskriminasi karena penanganan yang kurang tepat.

  21. Siti Maryati says:

    Pendidikan inklusif di Indonesia masih memerlukan perhatian lebih.Sekolah tidak bisa menolak atau harus menerima anak yang memiliki kebutuhan khusus sedangkan sarana dan prasarana yang kurang memadai untuk anak ABK. Sehingga anak yang harusnya berkembang malah mendapatkan perlakuan diskriminasi karena penanganan yang kurang tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *