Narasi Sarjana Lulusan Covid-19

Aku adalah mahasiswa lulusan Covid-19,

Aku adalah mahasiswa akhir di salah satu universitas swasta di Bogor Jawa Barat. Universitas Djuanda Bogor yaitu kampus bertauhid yang menjadi kampus kebanggaanku. Aku diberikan kesempatan untuk menuntut ilmu dan belajar banyak hal disana. Menjadi mahasiswa tidaklah mudah dan indah seperti apa yang diceritakan novel-novel, perjalanan yang mulus sampai akhir itu hanyalah khayalan dibangku SMA. Banyak sekali rintangan yang harus dihadapi, salah satu rintangan yang harus dilewati olehku dan teman-teman seperjuangan yang sedang berusaha menyelesaikan tugas akhirnya di bangku perkuliahan pada tahun 2020 ini yaitu dengan adanya virus yang menggemparkan seluruh dunia.

Dunia berduka, wabah Covid-19 yang berasal dari Wuhan China telah menyebar begitu cepat ke berbagai negara. Negara yang terkena dampak atas tersebarnya wabah Covid-19 yang begitu cepat dengan jumlah yang tidak sedikit diantaranya adalah Indonesia. Dampak yang begitu besar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat terutama dalam bidang perekonomian dan pendidikan.

Indonesia melakukan upaya untuk mencegah dan menghentikan penyebaran wabah Covid-19 dengan melakukan lockdown. Lockdown pertama kali dilakukan pada tanggal 20 Maret 2020 dimana pemerintah melarang masyarakat untuk keluar masuk ke suatu tempat yang darurat. Selain itu pemerintah juga melakukan karantina, social distancing, dimana pencegahan yang dilakukan pemerintah mengharuskan masyarakat untuk mengurangi jumlah aktivitas di luar rumah, tidak melakukan interaksi secara tatap muka dan menghindari tempat-tempat umum yang ramai dan sering dikunjungi.

Adapun beberapa protokol kesehatan yang harus ditaati diantaranya adalah memakai masker, membersihkan tangan sebelum memegang wajah, mencuci tangan dengan sabun menggunakan air mengalir atau mencuci tangan dengan berbasis alkohol, mengeringkan tangan menggunakan tisu, menutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk, mematuhi petunjuk keamanan makanan, membersihkan ruang atau lingkungan secara rutin dengan desinfektan, memberikan himbauan mengenai wabah, menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang. Semua terasa rumit untuk dilakukan bukan? Tapi inilah kenyataan yang harus aku dan orang-orang lakukan demi kelancaran hidup di masa-masa Covid-19.

Berbagai strategi dan peraturan baru yang diakibatkan dari adanya wabah Covid-19 ini berdampak besar pada bidang pendidikan diantaranya adalah perubahan sistem pendidikan yang beralih pada pembelajaran secara daring. Pembelajaran daring ini berlaku untuk semua jenjang pendidikan yang ada di Indonesia. Hal tersebut berdampak besar pula pada tugas akhirku. Semua rencana sudah tersusun rapi dan harapan yang begitu indah harus ditelan pahit oleh kenyataan kehidupan. Semangat dalam menyelesaikan tugas akhir pun berkurang bahkan hampir tidak ada.

Semua rencana dan harapan harus terputus di tahap pengambilan data hasil dan pembahasan, sebelum itu aku begitu bersemangat dalam menyelesaikan semua ini mulai dari observasi dan pengambilan data untuk di latar belakang, menentukan judul bahkan tempat yang akan digunakan dalam pengambilan data. Setiap progress dari tahapan akhir ini aku selalu komunikasikan dengan kedua dosen pembimbing dengan harapan mendapatkan arahan untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. Bimbingan dengan cara bertatap muka lebih menarik dan mudah dipahami olehku, aku memiliki target untuk melakukan bimbingan minimal 1 kali dalam satu pekan hingga 1 pekan sekali aku harus pergi ke kampus. Aku sudah berada pada tahap seminar proposal dan uji validasi ahli, semua rencana itu sesuai dengan rencana dan berjalan dengan baik.

Hingga pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa Indonesia juga terkena dampak wabah covid-19 semua jenjang pendidikan melakukan pembelajaran jarak jauh dan melakukan pembelajaran secara daring di rumah selama 2 minggu. Aku berpikir ini kesempatan untuk pulang ke kampung halaman, berkumpul dengan keluarga dan bisa menjadi energi positif bagiku untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Seiring berjalannya waktu penyebaran wabah virus Covid-19 ini makin meluas dan menelan banyak korban hingga pemerintah menetapkan untuk melanjutkan pembelajaran di rumah dengan sistem daring. Hal tersebut membuatku mulai khawatir dengan kesehatan orang-orang disekitar terutama keluarga hingga aku memutuskan untuk tetap tinggal di kampung halaman dengan keyakinan kampung halaman lebih aman dan jauh dari penyebaran wabah virus Covid-19. Selain itu aku juga merasa bingung dengan keadaan ini dimana rencana-rencana yang telah tersusun rapi kini harus hancur berantakan.

Aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku merasa dibatasi dengan keadaan seperti ini. Sekolah yang menjadi tempat penelitian pun melakukan pembelajaran di rumah. Pengambilan data penelitian ditujukkan kepada siswa sekolah dasar. Dimana siswa pada usia sekolah dasar membutuhkan bimbingan dalam belajar apalagi melakukan penelitian untuk mendapatkan data. Hal tersebut sulit bagiku untuk melakukan penelitian di masa pandemi seperti ini. Terlebih penelitian yang akan dilaksanakan olehku adalah penelitian yang memerlukan adanya penerapan pada siswa ketika melakukan pembelajaran.

Aku berpikir orang-orang akan sibuk dengan menyesuaikan hidupnya dengan keadaan dimasa wabah virus Covid-19 termasuk orang yang bergelut dalam pendidikan. Sejak saat itulah, aku merasa tidak memiliki semangat untuk menyelesaikan tugas akhir dan harapan-harapan pun mulai pudar.

Waktu berjalan begitu saja, penyebaran wabah virus Covid-19 masih berlanjut dan pembelajaran masih dilaksanakan di rumah. Aku masih merasa bingung dengan keadaan, aku masih belum menemukan cara dalam menyelesaikan permasalahan ini, aku pun tak berniat untuk melakukan bimbingan secara online karena aku masih berdoa dan berharap hadirnya keajaiban yang terjadi dengan keadaan ini hingga pembelajaran kembali dilaksanakan di sekolah seperti sedia kala. Semenjak adanya wabah virus Covid-19 ini aku sering berada di dalam kamar dan sesekali merasa bingung dan menangis dengan keadaan seperti ini. Harapanku ingin sekali cepat menyelesaikan tugas akhir ini dan tidak menambah biaya tambahan kuliah, karena itu akan menambah beban orang tuaku.

Suatu hari ada teman terdekatku yang akan melakukan sidang hasil penelitian, disitulah aku merasa hancur kembali dengan keadaan dimana orang lain akan menyelesaikan tugasnya sedangkan aku masih diam di tahap yang sama sebelum adanya wabah virus covid-19. Sejak itulah aku memberanikan diri untuk menceritakan semua ini kepada kedua orang tua tanpa maksud membebani keduanya atau yang lainnya. Orang tua mengerti semua ini dan selalu memberikan do’a dan dorongan kepadaku untuk menyelesaikan ini dengan baik dan menyakinkanku pasti ada solusi dan jawaban untuk semua ini hingga pada hari jumat aku bertekad dan memantapkan hati bismillah untuk melakukan bimbingan secara online untuk meminta solusi dari tugas akhirku.

Bimbingan secara online pun sudah terlewati, aku mendapatkan solusi terbaik yang diberikan oleh kedua pembimbingku, hingga aku mendapat semangat kembali untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Aku melakukan pengambilan data dengan sistem online dengan memanfaatkan teknologi sebagai alat komunikasi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan di masa pandemik seperti ini. Pengambilan data secara online kepada siswa sekolah dasar tidaklah mudah seperti apa yang dibayangkan, mulai dari keraguanku untuk mendapatkan izin dari pihak kepala sekolah dalam melakukan penelitian online kepada siswanya, kesibukan guru kelas yang mengajar dengan sistem online dan tidak kunjung memberikan jawaban dan kepastian perihal izin melakukan penelitian di kelasnya dan keterbatasan siswa dan orang tua yang memiliki Hp atau media komunikasi online dan kemampuan untuk mengaplikasikannya.

Hingga pada akhirnya Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik untukku, Allah permudah semua langkahku dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Aku bisa menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik mulai dari pengambilan data untuk menyelesaikan tugas akhir, bimbingan, sidang hasil sampai pada tahap wisuda semua dilaksanakan secara online. Banyak sekali ibrah yang dapat dipetik dari adanya penyebaran wabah virus Covid-19 ini. Semua dilaksanakan secara online, online tak berarti mengurangi rasa syukur dan kebahagiaan yang bisa aku dapatkan hingga berada pada tahap ini.

Aku adalah mahasiswa lulusan Covid-19, aku bangga aku bisa menyelesaikan tugas akhir kuliahku dengan tantangan yang besar dan selalu diingat oleh seluruh manusia di dunia ini. (IF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *