Pengalaman Dan Keresahanku Kuliah Daring MABA Angkatan 2020

Covid-19 atau  sering  juga disebut corona  virus, wabah ini pertama  kali ditemukan pada tanggal  1 Desember 2019  di kota Wuhan China dan pada tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dan Pada tanggal 11 Maret 2020 hingga 14 November 2020 lebih dari 53.281.350 orang kasus  telah dilaporkan lebih dari 219 negara dan wilayah seluruh dunia. Dan mengakibatkan lebih dari 1.301.021 orang meninggal di dunia dan lebih dari 34.394.214 orang sembuh.

Pada tanggal 2 Maret 2020 Bapak Presiden Joko Widodo mengumumkan virus corona wuhan menjangkit dua warga Indonesia ,tepatnya di kota Depok, Jawa barat. Kedua orang tersebut merupakan seorang ibu yang berumur 64 tahun dan putrinya  yang berumur  31 tahun yang sempat kontak warga jepang yang  positif  mengidap Covid-19. Warga jepang tersebut terdeteksi Covid-19 di Malaysia, setelah meninggalkan Indonesia.

Dan Pemerintah mengambil tindakan cepat untuk meliburkan sekolah di daerah Jabodetabek dari jenjang sekolah  PAUD,SD,SMP,  SMA/SMK bahkan Mahasiswa juga diliburkan selama dua  pekan dan di mulai pada hari senin tanggal 16 April 2020 hal tersebut disampaikan oleh masing-masing Gubernur setiap Provinsi.

Dan setelah libur dua  pekan tersebut  pemerintah mengumumkan untuk seluruh siswa dari PAUD,  SD, SMP, SMA/SMK bahkan Mahasiswa juga  melakukan kegiatan belajar mengajar di rumah secara daring melalui kurikulum yang telah disiapkan, setengah kurikulum dari dua minggu tersebut yaitu tentang Covid-19 dengan interaktif dan teknologi. Dengan pembelajaran ini anak-anak di harapkan menjadi agen edukasi Covid-19 di lingkungan nya. Tidak hanya sekolah yang dirumahkan tetapi banyak pekerja  juga yang dirumahkan bahkan ada yang sampai di-Phk itu karena banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan gara gara Covid-19 ini. Masyarakat Indonesia  berbondong-bondong untuk membeli masker dan hand sanitizer sampai-sampai ada yang menimbun masker dan hand sanitizer  hingga harga masker dan hand sanitizer melonjak tinggi, karena itu masyarakat dari kalangan ekonomi rendah tidak bisa membeli masker. Mereka berpendapat “lebih baik beli beras dari pada beli masker dan hand sanitizer”

Setelah siswa sekolah tau bahwa mereka diliburkan selama dua  pekan dan dilanjut  dengan belajar di rumah atau daring mereka merasa senang, tetapi bagi siswa yang mau lulus mereka merasa sedih dan beberapa juga merasa senang  karena untuk pertama kalinya  Ujian Nasional ditiadakan karena merasa bahwa mereka sudah susah susah untuk mengikuti bimbel dan mereka juga berpendapat  “percuma ikut bimbel, udah capek- capek  bayar mahal tau tau UN gak ada.”, “saya nanti lulus pake apa dong?”, “alhamdulilah gak jadi UN “, “nanti ijazah saya bentuk pdf dong” dan mereka juga sebagai Angkatan pertama yang tidak mengadakan perpisahan “berpisah tanpa perpisahan “dan mereka juga sebut sebagai angkatan 1 corona 2020.  

Tidak hanya itu bagi siswa siswa yang ingin melanjutkan sekolah dengan jalur SBMPTN (seleksi Bersama masuk perguruan tinggi negeri) mereka mengalami beberapa kali perubahan jadwal UTBK (ujian tulis berbasis komputer) nya dan mereka juga harus mencari tahu universitas yang mengizinkan untuk diadakannya UTBK tersebut karena ada beberapa universitas yang tidak mengizinkan untuk diadakannya UTBK karena Covid-19. Dan bagi siswa yang tidak melanjutkan kuliah tetapi ingin bekerja mereka juga mengalami kesulitan karena banyak perusahan yang melakukan PHK (pemutus hubungan kerja) dan  perusahan yang bangkrut, karena hal tersebut siswa yang baru lulus harus bersaing dengan orang yang sudah berpengalaman, dan banyak dari perusahan yang lebih menerima orang yang sudah berpengalaman dari pada orang yang baru lulus (fresh graduate)

Bukan hanya itu bagi MABA (MAhasiswa BAru) Angkatan 2020 sebagai Maba pertama yang melakukan pmb (pengenalan mahasiswa baru) online atau pmb daring, padahal mereka sangat ingin merasakan PMB offline. Masa pengenalan siswa itu adalah momen yang sangat ditunggu tunggu oleh Maba karena yang mereka inginkan yaitu untuk berkenalan dengan teman teman baru, mengenal dosen dosen yang akan mengajar mereka nanti, dan mengenal lingkungan kampus secara langsung. Akan tetapi mereka harus menelan pil pahit karena mereka harus melakukan pmb online yang dari awal sampai penutupan harus  melihat layar laptop atau hp mereka mereka juga berpendapat ”ih apa sih pmb online bosen banget deh”, “yah jaringan nya ngelag “, “yah tadi si kakak nya ngomong apa yah?”, dan  “dari pada ikut pmb yang bosen mending tidur toh si kakak tingkat nya gak tau ini”.

Tidak hanya PMB yang diadakan online tetapi ternyata sampai masuk perkuliahan  pun kita secara online dengan pembelajaran secara daring, yang ternyata pembelajaran nya tidak mudah karena  tugas yang diberikan oleh dosen sangat banyak dan kebanyakan tugasnya itu dikumpulkan dalam waktu yang berdekatan. Pembelajaran daring tidak membuat mahasiswa bisa bermalas malasan bahkan mahasiswa harus begadang untuk mengerjakan tugas nya. Sedangkan banyak dosen yang memberi tahu mahasiswanya untuk menjaga kesehatan, tidur yang cukup tidak begadang dan tidak keluar rumah jika mengharuskan keluar rumah tetap jaga protokol kesehatan.

Tetapi kenyataannya kita mahasiswa selalu tidur begadang karena mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Dan ada beberapa Dosen yang langsung memberi tugas tanpa menjelaskan materi, yang jarang bales chat mahasiswanya. Padahal mahasiswa itu ingin menanyakan perihal tugas.

Tidak hanya tugas saja karena pembelajaran daring ini  membutuh kan  jaringan atau kuota yang banyak dan stabil dan kebanyakan  mahasiswa yang kesusahan karena di daerah mereka jaringan nya kurang stabil dan mereka juga sering mengeluhkan karena harus membeli kuota, walaupun pemerintah sudah memberi subsidi untuk kuota, akan tetapi kuota yang diberikan  nya itu khusus untuk aplikasi tertentu saja. Mahasiswa juga kadang semangat belajar nya menurun karena terlalu bosan belajar di rumah. Mahasiswa juga mengeluhkan tentang pembayaran iuran ukt yang tidak ada potongan padahal mahasiswa tidak menggunakan fasilitas yang ada di kampus. 

Mungkin ada beberapa  kemudahan dalam pembelajaran daring yaitu mahasiswa bisa dengan mudah belajar di mana saja dan mahasiswa bisa dengan mudah bolos saat jam kuliah tanpa ketahuan sama dosen atau ketika mahasiswa mengikuti zoom bisa rebahan, mahasiswa tidak perlu mandi dulu ketika ada jam kuliah, mahasiswa juga tidak perlu memikirkan baju yang harus di pake kuliah cocok atau tidak dan ketika mahasiswa telat tidak perlu lari lari untuk sampai ke kelas cukup buka laptop langsung masuk zoom.

Pada bulan November 2020 Pemerintah pusat memutuskan bahwa pemda dapat membuka sekolah tatap muka di masa pandemic Covid-19 di semester genap per januari 2020,dan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim menegaskan bahwa keputusan ini memperbolehkan pemda membuka sekolah tentu dengan perhatian protocol kesehatan.

Siswa mendengar kabar tersebut pun merasa senang karena mereka bisa bertemu dengan teman temannya, guru guru juga dan bisa belajar Bersama mereka. Apalagi mahasiswa baru mereka bisa bertemu dengan teman teman yang belum pernah ketemu karena mereka berkenalan pun hanya lewat whatsapp grup saja bahkan mereka pun belum pernah ketemu dengan dosen-dosen yang mengajar di kelas mereka.

Kenyataannya mereka harus menelan pil pahit kembali karena sekolah tidak jadi dibuka pada awal januari 2021, ini karena melonjaknya pasien Covid-19 sejak 8 januari 2021 jumlah kasus Covid-19 di Indonesia secara konsisten bertambah 10.00 per hari, bahkan sering kali menciptakan rekor penambahan kasus tertinggi. Pada jumat 22 januari 2021 ada 13.632 kasus baru corona di Indonesia sehingga secara keseluruhan jumlah kasusnya mencapai 965. 283 dan melihat beberapa sekolah yang belum cukup siap untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka.

Lonjakan  kasus corona di Indonesia  beriringan dengan menurunnya kepatuhan masyarakat untuk menerapkan protocol kesehatan, seperti memakai master, menghindari kerumunan dan menjaga jarak serta mencuci tangan dengan sabun. Ini terlihat dari data yang disampaikan oleh juru bicara satuan tuga penangan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan , sejak minggu ketiga hingga minggu ke empat Desember 2020, persentase kepatuhan memakai masker menurun 28% dan persentase kepatuhan untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan 20,6% sedangkan pada Oktober 2020, tingkat kepatuhan masyarakat dalam memakai masker rata rata masih melebihi angka 70% dan kepatuhan dalam menjaga jara berada di atas angka 60%, sedihnya, pada desember 2020 angka kepatuhan memakai masker hanya 55% dan kepatuhan menjaga jarak 39%. Perlu kita garis bawahi, bahwa ini bukan sekedar angka melainkan soal keselamatan manusia. Tetap patuhi protocol kesehatan tentunya dengan melaksanakan 5M yaitu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas.

Pada Minggu 6 Desember 2020 vaksin corona sudah sampai di Indonesia. Ada 1,2 juta vaksin Covid-19 buatan sinovac. Usai sampai, vaksin corona di Indonesia langsung di bawa ke kantor pusat biro farma di bandung, jawa barat. Dan pada bulan januari sampai sekarang sedang di edarkan dan di utamakan yang mendapatkan vaksinasi pada periode pertama yaitu yaitu tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang serta mahasiswa yang sedang menjalani profesi kedokteran yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan. untuk periode kedua yaitu  untuk petugas pelayanan publik dan kelompok usia lanjut di atas 60 tahun, untuk period ke tiga yaitu masyarakat rentan dari aspek geospasial, social, dan ekonomi, dan untuk period ke empat yaitu masyarakat dan pelaku ekonomi lainnya. Selanjutnya vaksinasi pertama dilakukan pada tanggal 13 januari 2021. Oleh Bapak presiden Joko Widodo dan sederet menteri lainnya .

Semoga saja dengan ada nya vaksin ini kita bisa melakukan kegiatan seperti sebelum ada wabah ini.dan semoga saja pembagian vaksin ini bisa menyeluruh dan merata, tidak membedakan antara pejabat dan rakyat kecil. (Wilda Tannia, mahasiswa PGSD FKIP UNIDA Bogor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *